Thursday, July 24, 2008

Susi Susanti

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Langsung ke: navigasi, cari
Susi Susanti
Susi Susanti

Lucia Francisca Susi Susanti (Hanzi: 王蓮香, pinyin: Wang Lian-xiang, lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat 11 Februari 1971) adalah seorang pemain bulutangkis Indonesia.

Dia menikah dengan Alan Budikusuma, yang meraih medali emas bersamanya di Olimpiade Barcelona 1992. Selain itu, ia pernah juga meraih medali perunggu di Olimpiade Atlanta 1996.

International Badminton Federation (sekarang Badminton World Federation) pada bulan Mei 2004 memberikan penghargaan Hall Of Fame kepada Susi Susanti. Pemain Indonesia lainnya yang memperoleh penghargaan Hall Of Fame yaitu Rudy Hartono Kurniawan, Dick Sudirman, Christian Hadinata, dan Liem Swie King.

[sunting] Prestasi

  • Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992
  • Medali Perunggu Olimpiade Atlanta 1996
  • Juara World Championship 1993
  • Juara All England 1990, 1991, 1993, dan 1994
  • Juara World Badminton Grand Prix 1990, 1991, 1992, 1993, 1994 dan 1996
  • Juara Indonesia Open 1989, 1991, 1994, 1995, 1996, dan 1997
  • Juara Malaysia Open 1993, 1994, 1995, dan 1997
  • Juara Japan Open 1992, 1994, dan 1995
  • Juara Korea Open 1995
  • Juara Dutch Open 1993
  • Juara Denmark Open 1991 dan 1992
  • Juara Thailand Open 1991, 1992, 1993, dan 1994
  • Juara Swedish Open 1991
  • Juara China Taipei Open 1991 dan 1994
  • Juara Piala Uber 1994 dan 1996 (Tim Piala Uber Indonesia)


wikipedia.com

Susy Terima Hall of Fame

JAKARTA - Bintang bulutangkis putri Susy Susanti menerima penghargaan Hall of Fame dari Federasi Bulutangkis Internasional (IBF) yang diserahkan Presiden IBF Korn Thapparansi di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu.

"Saya senang menerima penghargan tersebut, dan berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang memungkinkan diperolehnya penghargaan ini," kata Susy dalam pidato singkatnya seusai menerima penghargaan bergengsi di dunia bulutangkis itu.

Keputusan untuk menganugerahkan penghargaan terhadap legenda bulutangkis Indonesia berusia 33 tahun itu diambil oleh Dewan IBF pada pertemuan hari Rabu (12/5).

Susy Susanti yang bersama suaminya Alan Budikusuma meraih medali emas pertama untuk Indonesia pada Olimpiade Barcelona 1992, menyusul Rudy Hartono, Dick Sudirman, Christian Hadinata dan Liem Swie King yang sudah lebih dulu menerima penghargaan tersebut. Selain itu, ibu dari tiga anak tersebut juga meraih medali perunggu di Olimpiade Atlanta 1996, Juara Dunia 1993, dan lima kali menjuarai All England. (ant-57)

Thomas Uber Cup 2008
Pembuktian Nasionalisme Susy Susanti
Oleh admin Minggu, 25-Mei-2008, 10:20:56
Siapa orang Indonesia yang tak kenal nama Susy Susanti. Sebagai ratu bulutangkis dunia namanya tak hanya masyur di Indonesia. Segudang prestasi menjadi sesuatu yang terus menghidupkan namanya. Mental baja, ulet dan pertahanan yang kokoh adalah ciri khas permainan jawara All England 4 kali ini.
Oleh: Iwan Susanto

Siapa orang Indonesia yang tak kenal nama Susy Susanti. Sebagai ratu bulutangkis dunia namanya tak hanya masyur di Indonesia. Segudang prestasi menjadi sesuatu yang terus menghidupkan namanya. Mental baja, ulet dan pertahanan yang kokoh adalah ciri khas permainan jawara All England 4 kali ini.

Setelah berhenti dari hingar bingar bulutangkis internasional, sosoknya tetap menjadi sorotan publik. Tepat di penghujung tahun 1999 Susy resmi gantung raket. Sebagai mantan pemain handal istri Alan Budikusuma ini diharapkan mampu menularkan pengalamannya. Banyak pihak berharap Susy mau menjadi pelatih. Susy digadang akan mampu menelurkan pemain kaliber dunia disaat pemain putri Indonesia terpuruk. Namun Susy selalu menolak. Bahkan Susy selalu muncul dengan kritikan yang lantang kepada pemerintah tentang nasib mantan atlit seperti dirinya yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Banyak kalangan pecinta bulutangkis Indonesia kecewa. Susy yang bergelimang dengan hadiah masih terus menuntut kesejahteraan. Bayangkan disaat tahun 1992 uang tunai 1 milyar sudah masuk ke rekeningnya. Dan masih banyak hadiah yang didapat dari berbagai turnamen. Banyak yang berujar ''Susy dulu kau ku puja kini kau buat ku merana''. Kata-kata itu memang menjadi pilihan terakhir disaat prestasi pemain tunggal putri Indonesia menginjak titik nadir. Contoh akurat adalah tidak adanya pemain tunggal putri yang sekedar bisa lolos ke olimpiade 2004. Padahal Susy adalah ratu ditahun 1992.

Kiprah Susy di bulutangkis pun sangat minim. Susy hanya muncul di turnamen yang melibatkan produknya, ASTEC. Puncaknya Susy dengan tegas melarang anaknya untuk terjun di dunia bulutangkis. Sungguh ironis memang. Egois kah mantan Srikandi Indonesia ini? Semua tentu bertanya-tanya.

Pertanyaan kemudian terjawab di putaran final Thomas Uber Cup 2008. Susy yang ditunjuk sebagi manager tim, ternyata membuktikan bahwa dia adalah nasionalisme sejati. Pembuktian itu bukan karena Maria Kristin dkk sukses melaju hingga final. Namun nasionalisme Susy terbukti dengan seriusnya dia mengolah tim uber kita. Tim yang tak punya kartu as dan tak diunggulkan malah mampu bermain dengan semangat membara. Menempatkan sebagai kakak, Susy berhasil mengayomi Tim Uber Indonesia. Mental tim yang selalu menjadi titik lemah, mampu dipolesnya.

Pernyataannya pun adalah bukti nyata kecintaannya terhadap Indonesia. Walau sempat mendapat tawaran melatih diluar negeri, demi cinta tanah airnya Susi tak menggubris tawaran tersebut. Pernyataan lain yang membuat kagum adalah sehari menjelang final. Susy melontarkan bahwa Tim Uber Indonesia harus berjuang maksimal seperti tentara di medan laga demi Indonesia apapun bisa. ''Indonesia luar biasa,'' kata-kata yang dilontarkan dengan kalem namun penuh makna.

Susy pun berjanji tahun 2010 tim uber Indonesia akan lebih baik dan lebih menggigit. Kita tunggu kiprah sang legenda Indonesia ini.
Iwan Susanto, Jurnalis Masyarakat Bulutangkis Indonesia (MBI)

Ketenangan Bawa Kemenangan Bao Chunlai


Jakarta (ANTARA News) - Tunggal kedua China, Bao Chunlai mengaku bahwa ketenangannya terutama pada game pertama membantunya meraih kemenangan atas Lee Hyun Il 28-26, 21-11.

"Hari ini saya lebih tenang tetapi secara keseluruhan kami sangat lelah dalam pertandingan tersebut," ujar Bao Chunlai saat memberi keterangan pers usai memenangi pertandingan atas pemain ranking sembilan dunia itu sekaligus membawa China memimpin 2-1 atas Korea dalam final Piala Thomas, Minggu.

Ketenangan tersebut terutama bermanfaat pada "deuce" setelah ia unggul 20-17, namun kemudian terkejar sehingga kedudukan sempat imbang mulai dari 20-20 hingga 26-26.

Akhirnya pemain nomor tiga dunia itu yang merebut game tersebut 28-26.

"Saat deuce semua poin sangat sulit didapat, tetapi saya bisa mengatasi tekanan sehingga memenangi set tersebut," ujar Bao yang memperpanjang rekor kemenangannya atas Lee menjadi tujuh kali dari tujuh pertemuan.

Setelah memenangi game pertama dengan perjuangan keras, tanpa banyak kesulitan Bao memenangi game kedua 21-11.

Pemain nomor satu Lin Dan menyumbang angka pertama bagi juara bertahan China dengan menundukkan Park Sung Hwan secara rubber-game 10-21, 21-18, 21-8 dalam satu jam.

Kemenangan tersebut memperbaiki rekor pertemuan dia dengan pemain peringkat delapan dunia, Park itu menjadi 3-3 setelah sebelumnya menang di Kejuaraan Dunia 2006 dan Prancis Super Series 2007, sementara Park memenangi pertemuan Malaysia Terbuka 2004, Malaysia Super Series dan China Super Series 2007.

Namun pasangan peringkat tiga dunia yang sedang menanjak Jung Jae Sung/Lee Yong Dae menyamakan kedudukan bagi Korea menjadi 1-1 setelah menundukkan ranking dua dunia Fu Haifeng/Cai Yun 25-23, 21-16.(*)


sumber: thomascup.antara.co.id

Kertas Warna Warni Meriahkan Kemenangan Tim Thomas China


Jakarta (ANTARA News) - Tim Piala Thomas dan Uber China bersuka-ria dengan menembakkan kembang kertas warna-warni ke udara di dalam gedung Istora Senayan, Minggu, setelah berhasil mempertahankan Piala Thomas dengan skor 3-1 lawan Korsel.

Suasana di dalam gedung Istora Senayan hingar bingar yang diwarnai gempita suara yang dilontarkan para pemain dan ofisial serta dari penonton pendukung China dalam bahasa Mandarin, menyusul kemenangan tim itu.

Sehari sebelumnya, Sabtu, tim China juga berpesta setelah tim Piala Uber mempertahankan gelar dengan memenangi pertandingan final setelah mengalahkan tim tuan rumah Indonesia 3-0.

Tampak bendera-bendera warna merah yang merupakan warna bendera China dibentangkan di area penonton serta sebuah spanduk bertuliskan mendukung pemain tunggal China Lin Dan.

Berbeda dengan hari sebelumnya, Sabtu, suasana yang didominasi dengan dukungan terhadap tim Indonesia, pada malam final Thomas ini, sebagian besar penonton melakukan dukungannya kepada tim China, dan hanya ada sebagian kecil penonton yang berada di sudut kanan atas Istora Senayan yang meneriakkan dukungannya terhadap tim Korsel.

"Saya datang dari wilayah Jakarta Kota, dan keberadaan saya di sini untuk mendukung tim China," kata Mei Lan yang mengaku berprofesi sebagai pedagang itu.(*)

sumber: thomascup.antara.co.id